Fenomenal Ayat-Ayat Cinta Versi Gue
Posted by gubuksaya on March 20, 2008
Beberapa hari yang lalu daku bersama dengan saudaraku pergi cabut nonton Ayat-Ayat Cinta, Which is film yang diangkat dari Novel yang sukses bikin aku mewek dan terkesan dengan plot cerita dan pesan moral yang terkandung. Sebenarnya nggak ada rencana untuk nonton di Bioskop, karena aku sendiri malas untuk ngantri lama-lama, tapi karena didorong oleh referensi temen-temen yang udah nonton dan menggebu-gebu bilang : “BAGUUS!” dan “KEREEEN”, akhirnya daku memutuskan untuk menerima ajakan sepupuku di suatu minggu yang cerah.
Aku pikir, ah, udah lewat dua minggu, paling udah lumayan sepi nih! Dan aku akhirnya santai-santai aja karena masih jam sepuluh pagi *CATET : Jam 10 Pagi!* dan aku pikir rajin amat sih orang-orang udah pergi ke sono jam segini. Akhirnya dengan tampang tak berdosa daku berjalan-jalan dulu ama nyokap sambil nunggu sepupu : Mbak leni dateng.
Lalalala… minggu pagi yang indah…
Lalala…. Ih, bajunya bagus-bagus banget!
Lalala… kesana sekarang nggak ya…?
Lalala….. ke bioskop sekarang ah… *Jam setengah sebelas siang*
Lalalala….
Lala…
La…
….
….
WHAT!???
ORANG-ORANG UDE NGANTRI AMPE LUAR PINTU?
Whadee *&^%^%#R$^
Huhuhu…. Ibu… tau gitu kan gue ke sini dulu begitu udah nyampe…. Gue kira bioskop pada umumnya nayangin film sekitar jam satu siang dan orang-orang baru dateng at least jam 11 lah, lah ini udah ampe luar pintu! Ternyata Ayat-ayat Cinta ditayangin jam 11.15 siang. Hiks…. Akhirnya setelah perdebatan alot antara gue yang pengen berpindah haluan ke 40 Hari Bangkitnya Pocong dan Nyokap yang udah kebelet nonton ayat-ayat cinta, diputuskan dengan berat hati gue ngantri nonton ayat-ayat cinta.
Hiks. Padahal pocongnya menggoda iman.
Tapiiii ternyataaaa….. baru kali ini setelah nonton JOMBLO dan SOULMATE gue keluar bioskop dengan perasaan puas setelah nonton film Indonesia. Sebenernya gue udah bisa memperkirakan kalo ni film pasti keren, mengingat yang garap sutradara favorit gw : Mas Hanung Bramantyo. Cuman yang membuat gue kagum adalah sentuhan tangan Mas Hanung yang terbiasa dengan film komedi nggak kehilangan sisi keindahannya walaupun menggarap film islami yang lumayan serius. Semua dikemas dengan begitu keren dan sukses banget ngebuat satu jam terakhir gw penuh air mata. Hehe.
Catatan positif ku :
- Opening. Nggak ada yang meragukan Mas Hanung dalam membuat opening yang megah. Gue yang terkagum-kagum dengan opening Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dan Get Married ini kembali terkesima ngeliat opening yang menurut ku ini cukup menggambarkan kehidupan para tokoh Ayat-ayat Cinta. Cuma satu yang aku herankan : Kenapa Fahri santai banget jalan-jalan berdua dengan Maria? No, nggak bermaksud apa-apa, Cuma, Fahri adalah pemuda yang menjunjung tinggi nilai islami dan agak aneh jika ia mau berduaan dengan perempuan yang notabene bukan muhrim-nya.
- Setting yang mendekati sempurna. Menurut orang awam seperti aku, settingnya itu dibuat dengan mendekati sempurna banget! Aku merhatiin ketika adegan Noura ditolong oleh Fahri, sebagai latar belakang adalah tembok yang isinya dicoret-coret oleh piloks, dan bahasa arab. *Udah cukup menggambarkan suasana Arab, soalnya aku pernah baca itu setting di Indonesia. Am I Wrong? If I am, please correct me* Terus flat Fahri, kereta yang ada peta stasiun-stasiun dengan tulisan bahasa arab, sampe figuran yang kebanyakan dari bangsa Indonesia keturunan arab. Cuma satu yang aku perhatiin, kenapa penonton pas sidang itu orang indonesia semua ya? Oh… mungkin para wartawan Indo yang ngeliput kali yee…
- Akting pemain yang lumayan. Terlihat banget hasil kerja keras dari Fedi Nuril ketika fasih melafazkan bahasa arab, dengan tidak terbata-bata, dan dengan mulus dia berbicara bahasa Inggris dan sedikit bahasa Jerman. Aku juga kagum dengan Carrisa yang melafazkan surat Maryam dengan tanda baca yang salah dan panjang pendek yang nggak beraturan. Menurutku itu keren, mengingat bahwa Maria adalah Kristen Koptik yang kagum dengan Al-Quran dan akan menjadi aneh kalo dia melafazkan Al-Quran dengan panjang pendek yang sempurna. Subhanallah, detail seperti ini saja benar-benar diperhatikan…
- Satu yang aku ingat, penulis skenario tidak menyusun plot cerita sesuai dengan di Novel, tapi justru itu yang membuat aku kagum. Sperti halnya Maria yang mengagumi Islam dan Al-Quran baru terungkap di bagian-bagian terakhir dari film ini, padahal kita sudah mengetahuinya di bagian awal ketika membaca novel. But this wasn’t bugging me much, malah Ini yang membuat aku kagum, penyusunan skenario yang keren banget.
- Pesan moralnya, berlimpah banget! Dari mulai perkataan teman Fahri di penjara yang bilang : “ALLAH sedang berbicara tentang SABAR dan IKHLAS kepadamu FAHRI!” dan perkataan Nabi YusuF “Ya Allah… Jika berada di penjara ini lebih baik daripada aku berada di tengah-tengah pembohong-pembohong itu, maka aku Ikhlas ya ALLAH!” sampai kata Maria yang bilang bahwa : “Aku sadar Fahri, bahwa cinta dan keinginan untuk memiliki, itu sama sekali berbeda.”. Tapiii… satu yang bikin aku heran lagi : “KENAPA TEMANNYA YANG BAIK DAN PENUH PESAN MORAL ITU BISA DIPENJARA??” hahaha… Mungkin dia juga korban fitnah kali ye…hehe
- Saat konflik di pengadilan, suasana benar-benar panas dengan kesaksian bohong Noura, dan tambah dramatis lagi dengan berita-berita Fahri yang masuk Koran.. itu bener-bener membangkitkan emosi dan aku bener-bener larut di dalamnya. Sampai ketika Fahri dinyatakan tidak bersalah, klimaks benar-benar naik karena didukung oleh Fahri yang sujud syukur dan musik yang membuat suasana semakin megah *Aku merinding banget!*
- Endiiiiing! Ini penting banget karena ending ini keren banget! No, I’m not good in explaining this part, but u must be know what I feel if u’ve already watched it. Ending ini bukan happy ending atau gantung ending seperti kebanyakan film-film yang lainnya. Personally, ini lebih dari itu. Sesuatu yang lebih memuaskan daripada happy ending sekalipun.
Duuuh…. Jadi panjang. Hahaha….
Walaupun masih ada beberapa kekuranngan di sana sini tentang film ini, tapi kelebihan mampu menutupinya dengan amat sangat baik. Satu catatan saya : Jangan terlalu berharap bahwa ini akan sama dengan di Novel, karena novel dan film adalah hal yang berbeda. Dua-duanya mempunyai sisi yang positif yang nggak dipunyai satu sama lain, jaidi anggap saja kalian sedang melihat hasill karya Hanung Bramantyo dkk ketika menonton film ini, dan kalian sedang merasakan hasil karya Habbiburrahman El Shirazy ketika sedang membaca novel. Believe me. Both of them are defiinitely Briliant!
Sampai jumpa….